Jumat, 09 Januari 2015

Tugas Resensi Buku

                                                     RESENSI Novel "Negeri 5 Menara"
                                                 (REVIEW BUKU, TUGAS MEDIA IT)
                                                    






Judul Buku                          : Negeri 5 Menara
Pengarang                           : Ahmad Fuadi
Penerbit                               : PT Gramedia Pusat Utama
Kota tempat terbit               : Jakarta
Tahun terbit                         : 2009
Tebal                                    : 424 halaman
Harga                                   : Rp 50.000,00

Novel best seller karya Ahmad Fuadi yang berjudul “Negeri 5 Menara” adalah novel motivasi yang berhasil membuat para pembacanya terkesima akan kisah menarik didalam pesantren modern. Novel ini merupakan novel pertama dari trilogi yang juga bercerita mengenai para pejuang mimpi dalam mewujudkan impiannya.

Dalam novel ini bercerita mengenai kehidupan dari seorang “Aku” yang bernama Alif Fikri. Seorang anak Minangkabau yang  memiliki keinginan besar untuk melanjutkan sekolahnya di SMA Bukittinggi. Namun keinginan itu tak dapat Alif wujudkan karena amaknya tak menyetujui dengan alasan kehidupan di SMA tidak bisa menunjang pengetahuan Alif akan dunia Islam. Pada awalnya Alif tidak menerima keputusan amak yang tak sejalan dengannya. Namun pada suatu hari Alif menerima surat dari pamannya yang bekerja di Mesir bernama Etek Gindo. Beliau menyarankan Alif untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah pondok pesantren di Jawa yang bernama Pondok Madani. Melalui pemikiran yang cukup lama, Alif-pun menyetujui saran dari Paman Etek Gindo, dan itu berarti Ia juga menyanggupi kemaun dari Amaknya untuk melanjutkan sekolah di sebuah Pondok Pesantren. Alif mengambil keputusan ini dikarenakan Ia tertarik akan kisah dari rekan pamannya di Mesir yang juga lulusan Pondok Madani, dimana mereka begitu fasih akan bahasa arab, bahasa inggris dan memiliki masa depan yang baik.

Akhirnya Alif-pun berangkat untuk mendaftar di Pondok Pesantren Madani bersama Ayahnya. Saat itu Alif sadar jikalau Ia masih dalam pikiran dan keputusan yang setengah-setengah. Dalam perjalanan menuju Pondok Madani, Alif berpikir Apakah Dia akan kuat dengan kehidupan pesantren yang katanya cukup berat? Seberapa lamakah Ia bisa bertahan?. Kegalauan masih setia mengunjungi otak dan hatinya ketika itu.

Sesampainya Di Pondok Madani. Alif mendaftarkan diri dan mengikuti serangkaian tes, hingga akhirnya Dia lolos seleksi dan diterima sebagai murid baru Pondok Madani. Selama perjalanan dan proses pengenalan awal Pondok Madani, Alif bertemu dengan 5 orang  murid baru lainnya,  yakni Said, Raja,  Atang, Dulmajid, dan Baso. Melalui pertemuan yang tak diduga dari proses perjalan menuju Pondok Madani, seleksi , hingga akhirnya menjadi murid resmi Pondok Madani membuat mereka menjadi sahabat yang erat, dimana mereka saling memberikan semangat dan saling mengisi akan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Ke-unikan yang ada didalam Pondok Madani membuat Alif melupakan rasa setengah hatinya akan Pondok Pesantren. Ia mulai percaya jikalau pilahannya untuk melanjutkan di Pondok Madani adalah pilihan yang benar. Hari demi hari yang dilaluinya di Pondok Madani benar-benar mengubahnya menjadi karakter yang lebih baik dari sebelumnya. Walaupun banyak peraturan yang wajib dilaksanakan, namun Pondok Madani memberikan banyak pelajaran padanya akan arti dari sebuah perjuangan, manfaat waktu, dan keajaiban akan impian. Bersama ke-5 sahabatnya yang lain, Alif selalu menyempatkan waktu untuk menatap awan dibawah menara masjid. Mereka membayangkan seolah-olah awan tersebut berbentuk sama dengan sebuah Negara impian mereka masing-masing. Berawal dari kebiasaan mereka membicarakan masadepan dibawah menara masjid Pondok Madani, mereka akhirnya memberikan julukan untuk persahabatan mereka dengan julukan Sahibul Menara. Sahabat Sahibul Menara adalah bagian kecil dari kelompok manusia yang berada dalam kepercayaan kuat akan keajaiban sebuah kalimat yang diucapkan oleh Kiyai Pondok Madani yang berbunyi “Man jaddah wa  jaddah” (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).

Kelebihan dari novel ini adalah dapat  menambah pengetahuan masyarakat mengenai kehidupan pesantren. Dengan adanya novel ini, penulis dapat menyampaikan gambaran nyata mengenai kehidupan pesantren modern yang mengajarkan bahkan mewajibkan para siswanya untuk memperdalam bahasa asing (bahasa inggris dan bahasa arab). Novel ini juga dapat memberikan motivasi kepada para pembaca melalui kalimat penyemangat yang ada didalamnya.

Kekurangan dari novel ini adalah, cerita dalam novel terkesan datar dengan konflik yang tidak terlalu nampak dalam alur cerita, sehingga pembaca merasa tidak tertantang dengan adanya konflik yang ada.

Buku ini sangat cocok untuk para remaja Indonesia yang ingin belajar bermimpi dan bagaimana cara mewujudkannya. Buku ini juga sangat cocok bagi semua kalangan masyarakat yang ingin mengetahui tentang kehidupan pesantren yang ternyata juga memiliki pengaruh besar akan pergerakan kualitas masyarakat terutama dalam hal pendidikannya melalui metode pembelajaran yang unik dan modern.

Novel ini manaruh sebuah pengharapan besar akan sebuah perjalanan penerus bangsa.  Diharapkan akan banyak remaja Indonesia sadar jikalau mereka haruslah bermimpi setinggi mungkin untuk dirinya sendiri dan bangsa yang besar ini. Bangsa ini menunggu hasil dari perjuangan penggapaian impian-impian para generasi mudanya. Jadi berjuanglah kalian para pemuda, bukan hanya untuk kesuksesan diri sendiri tapi juga  untuk kesuksesan Bangsa ini agar sanggup lari dari keterpurukan.

Resensi : M. Rizal Kurniawan (20120720167)

Minggu, 09 November 2014

Memperingati Hari Pahlawan 10 November 2014 dengan Mengenal Lebih Dekat Tokoh Pendidikan di Indonesia




Biografi Pahlawan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Biografi Pahlawan Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat. Beliau berasal dan keluarga keturunan Keraton Yogyakarta. Beliau mengganti namanya tanpa gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau belajar di STOVIA, tetapi tidak menamatkannya karena sakit. BeIiau kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-pahlawan-pendidikan-ki-hajar-dewantara/

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Setelah Abad 15 M umat islam mengalami kemunduran yang sangat parah ditandai dengan hancurnya dinasti Abbasiyah sebagai simbol kejayaan umat islam. Kemudian diikuiti dengan semangat bangsa Erofa yang dengan Renaisance nya membawa keharuman bangsa tersebut menuju puncak keemasan yang pernah di raih umat islam sebelumnya. Dari titik kesadaran yang diraih bangsa Erofa tersebut mampu menemukan berbagai inovasi dalam teknologi industri konsumtif; mesin, listrik, teknologi pemintalan dan lain lain. Setelah waktu berjalan penemuan inovasi ini tidak diimbangi raw material yang dimiliki bangsa Erofa sehingga memunculkan revolusi industri, yang mengakibatkan krisis kemanusiaan; Misalnya pengangguran, perbudakan, pemberontakan sebagai akibat kaum Borjuist yang sudah tidak memerlukan lagi tenaga manusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan berbagai macam dampaknya terhadap kehidupan manusia dan  lingkungannya, disatu sisi dia mampu membantu dan meringankan beban manusia, namun di sisi lain dia juga mempunyai andil dalam menghancurkan  nilai-nilai kemanusiaan, bahkan eksistensi itu sendiri. Ilmu barat yang bercorak sekuler dibangun di atas filsafat materialistisme, naturalisme dan eksistensialisme  melahirkan ilmu pengetahuan yang jauh dari nilai-nilai spritual, moral dan etika. Oleh karena  itu Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pandangan para pemikir Islam merupakan suatu hal yang mesti dan harus dirumuskan.
Problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai (netral) sebab dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat, yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Tulisan ini mencoba memotret ide-ide penting tentang Islamisasi ilmu yang digagas oleh Wan Mohd Nor Wan Daud dan Syed Mohammad Naquib al-Attas.
Membicarakan tema islamisasi ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari sosok Syed Muhammad Naquib al-Attas. Sebab seperti dikemukakan oleh Wan Mohd. Nor Wan Daud, al-Attas adalah seorang tokoh pemikir Islam yang pertama kali menggagas ide islamisasi ilmu pengetahuan, tepatnya ilmu pengetahuan kontemporer/modern/masa kini, di samping dua ide lainnya, yakni (1) problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan; dan (2) ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai (netral) sebab dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat, yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Maka dari itu, dalam membahas tema islamisasi ilmu pengetahuan ini, pemikiran al-Attas dengan dua ide mendasar lainnya tentang ilmu pengetahuan, mesti dijadikan pijakan utama.
Ilmu pengetahuan dapat menjadi salah satu media dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Tapi apakah semua ilmu pengetahuan yang dipelajari umat manusia sesuai dengan ajaran islam? Dalam makalah ini akan dibahas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan adanya Islamisasi Ilmu Pengetahuan akan mampu menghilangkan keraguan dalam menekuni suatu ilmu.